Orang yang perfeksionis terkadang kurang disukai karena sulit bersikap fleksibel. Bagaimana mengenali si perfeksionis?
* Selalu ingin tampil prima
Orang yang perfeksionis selalu ingin tampil sempurna dalam berbagai hal, termasuk dalam penampilan. Ia paling tak tahan untuk tidak melirik kaca dan merapikan diri setiap kali ada kesempatan.
* Ingin jadi superior
Si perfeksionis tidak dapat dengan mudah mengakui kesalahannya di depan publik. Mereka amat peduli akan pendapat orang lain terhadap dirinya dan ingin selalu terlihat pintar dan superior.
* Hobi mengkritik
Seseorang yang berkepribadian perfeksionis gemar mengkritik orang-orang di sekitarnya. Jangan harap Anda bisa terlihat sempurna di depan matanya.
* Tidak bahagia
Meski terkesan sempurna, sebenarnya orang yang perfeksionis tidak bahagia dengan kehidupannya. Meski hanya sepersekian detik, Anda pasti bisa menemukan jejak itu di matanya.
* Terobsesi pada sesuatu
Pernah mendengar teman Anda bilang, "Saya paling tidak tahan melihat meja berantakan," atau "Saya tidak akan berhenti usaha sampai bisa memenangkan penghargaan karya tulis itu!"
www.kompas.com
November 11, 2008
Mendeteksi si Perfeksionis
Diposting oleh Rob3rT di 11:17:00 PM 0 komentar
Ambil Dunia-ku - Christian Article
Seharusnya kita yang patut dipersalahkan atas semua ini. Entah mengapa, semuanya berakhir dengan pahit. Terbang dengan sayap harga diri dan ego, membawa kita terbang tinggi namun akhirnya jatuh menukik menubruk permukaan bumi. Mengapa begitu sulit meninggalkan dunia ini? Mati terhadap diri sendiri, memberikan segalanya dan mati.
Berbalik? Kembali? Tidak menjadi serupa dengan dunia ini? Buat apa? Semuanya melayang-layang dalam alam pikiran kita. Paku-paku besar dipakukan tanpa belas kasihan atas tangan dan kaki seorang pribadi yang memiliki kasih lebih dalam daripada lautan, lebih melimpah daripada air mata, menjangkau dan memeluk semua umat manusia.
Bisakah aku menjadi seorang yang dikorbankan? Memberikan segalanya bagi Dia? Darah dan air mengalir keluar dari lambung-Nya, robek oleh tombak prajurit yang tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan. Tertawa sambil mengejek. Bukankah kita prajurit-prajurit itu? Bukankah kita yang berteriak-teriak,”Salibkan Dia”.
Mencintai Tuhan… Memberikan segala-Nya bagi Tuhan. Mengapa? Karena Dia telah memberikan segala-Nya bagi kita.
Mencintai-Mu… Ambil duniaku…
Membutuhkan-Mu… aku jatuh bersujud…
Mencintai-Mu… Ambil duniaku, aku hancur Tuhan!
Semuanya sudah berakhir dan kita tinggal sendiri. Berada dalam sisa-sisa kehidupan yang bukan milik kita. Nafas yang bukan milik kita. Membutuhkan seluruh kekuatan dan keberadaan kita untuk percaya pada anugerah yang melingkupi kita. Senantiasa mengikuti dan mengejar kita.
Mengapa Engkau harus mati bagiku? Benarkah Engkau harus mati bagiku? Semua keberadaanku hanya bagi-Mu, sebab yang aku butuhkan dan aku percaya, meninggalkan duniaku. Meninggalkan dan menanggalkan egoku.
Hapus airmataku, curilah hatiku, meninggalkan kehidupan yang sia-sia dengan salib memimpin di depanku. Pertempuran antara anugerah dan ego sudah berakhir, aku menyerah. Sucikan hatiku, basuh aku dalam darah-Mu.
Duniaku yang lama jatuh menjadi debu dan terlempar jauh. Semakin lama aku semakin membutuhkan-Mu. Setiap jam yang berlalu, aku mendengar suara-Mu, yang tidak bisa aku sangkal. Ambil kelemahanku. Semua hal yang tidak bisa kusembunyikan. Ambil duniaku. Ambil duniaku.
Setiap kita seharusnya berkata dan berseru hari demi hari, detik demi detik, bahwa Dia tidak mati dengan sia-sia. Dia tidak diremukkan dengan sia-sia. HE DIDN’T DIE FOR NOTHING. HE DIDN’T DIE FOR NOTHING. Aku akan hidup bagi dan oleh Dia.
Renungkanlah senantiasa Firman-Nya. Ingatlah senantiasa akan kasih setia-Nya. Berdoalah dan Dia akan memampukan kita melakukan perintah-Nya.
17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia
18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.
21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,
22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,
24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.
26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.
29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Tanggalkanlah manusia lama dan kenakan manusia baru. Manusia lahiriah akan merosot tetapi biarlah manusia batiniah kita dibaharui hari demi hari. Mencintai Tuhan membutuhkan komitmen. Mencintai Tuhan… adalah perjalanan seumur hidup kita.
(www.unitedfool.com)...............
Diposting oleh Rob3rT di 11:07:00 PM 0 komentar
Kisah di Musim Dingin - Christian Article
Ini sebuah kisah nyata. Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil, berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lainnya.
Suatu ketika di musim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena ia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan. Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.
Siu Lan menyusun kue ke dalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi? Mereka harus dapat uang untuk makan. Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.
Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang sudah membeku dan sudah tidak bernyawa. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.
Siu Lan menggoncang-goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu lalu membukanya. Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca: “Hi..hi..hi.. mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hi..hi..hi.. mama selamat ualng tahun.”
Teman-teman, belajar dari kisah nyata ini, sering kali kita terlalu cepat menghakimi atau menghukum orang lain tanpa tahu fakta sebenarnya, hanya karena tidak sesuai dengan persepsi atau rencana kita. Berulang kali kita justru lebih sering menyakiti orang-orang yang kita cintai. Ingatlah jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya.
Ambillah waktu untuk berpikir. Sebab disitulah letak kekuatan. Ambillah waktu untuk membaca. Sebab disitulah dasar dari sebuah kebijaksanaan. Ambillah waktu untuk berdiam diri. Sebab disitulah kita berkesempatan untuk menemukan Tuhan. Ambillah waktu untuk berdoa. Sebab disitulah kekuatan terbesar di dunia.
(www.unitedfool.com)............
Diposting oleh Rob3rT di 10:52:00 PM 0 komentar
November 10, 2008
Why God? - Christian Article
Sally jumped up as soon as she saw the surgeon come out of the operating room. She said: "How is my little boy? Is he going to be all right? When can I see him?"
The surgeon said, "I'm sorry. We did all we could, but your boy didn't make it."
Sally said, "Why do little children get cancer? Doesn't God care any more? Where were you, God, when my son needed you?"
The surgeon asked, "Would you like some time alone with your son? One of the nurses will be out in a few minutes, before he's transported to the university."
Sally asked the nurse to stay with her while she said good-bye to son. She ran her fingers lovingly through his thick red curly hair.
"Would you like a lock of his hair?" the nurse asked.
Sally nodded yes. The nurse cut a lock of the boy's hair, put it in a plastic bag and handed it to Sally. The mother said, "It was Jimmy's idea to donate his body to the university for study. He said it might help somebody else. "I said no at first, but Jimmy said, 'Mom, I won't be using it after I die. Maybe it will help some other little boy spend one more day with his Mom." She went on, "My Jimmy had a heart of gold. Always thinking of someone else. Always wanting to help others if he could."
Sally walked out of Children's mercy Hospital for the last time, after spending most of the last six months there. She put the bag with Jimmy's belongings on the seat beside her in the car. The drive home was difficult. It was even harder to enter the empty house. She carried Jimmy's belongings, and the plastic bag with the lock of his hair to her son's room. She started placing the model cars and other personal things back in his room exactly where he had always kept them. She laid down across his bed and, hugging his pillow, cried herself to sleep.
It was around midnight when Sally awoke. Laying beside her on the bed was a folded letter. The letter said:
"Dear Mom, I know you're going to miss me; but don't think that I will ever forget you, or stop loving you, just 'cause I'm not around to say I LOVE YOU. I will always love you, Mom, even more with each day. Someday we will see each other again. Until then, if you want to adopt a little boy so you won't be so lonely, that's okay with me. He can have my room and old stuff to play with. But, if you decide to get a girl instead, she probably wouldn't like the same things us boys do. You'll have to buy her dolls and stuff girls like, you know. Don't be sad thinking about me. This really is a neat place. Grandma and Grandpa met me as soon as I got here and showed me around some, but it will take a long time to see everything. The angels are so cool. I love to watch them fly. And, you know what? Jesus doesn't look like any of his pictures. Yet, when I saw Him, I knew it was Him. Jesus himself took me to see GOD! And guess what, Mom? I got to sit on God's knee and talk to Him, like I was somebody important. That's when I told Him that I wanted to write you a letter, to tell you good-bye and everything. But I already knew that wasn't allowed. Well, you know what Mom? God handed me some paper and His own personal pen to write you this letter. I think Gabriel is the name of the angel who is going to drop this letter off to you. God said for me to give you the answer to one of the questions you asked Him 'Where was He when I needed him?' "God said He was in the same place with me, as when His son Jesus was on the cross. He was right there, as He always is with all His children.
Oh, by the way, Mom, no one else can see what I've written except you. To everyone else this is just a blank piece of paper. Isn't that cool? I have to give God His pen back now. He needs it to write some more names in the Book of Life. Tonight I get to sit at the table with Jesus for supper. I'm, sure the food will be great.
Oh, I almost forgot to tell you. I don't hurt anymore. The cancer is all gone. I'm glad because I couldn't stand that pain anymore and God couldn't stand to see me hurt so much, either. That's when He sent The Angel of Mercy to come get me. The Angel said I was a Special Delivery! How about that?
Signed with Love from: God, Jesus & Me...........
Diposting oleh Rob3rT di 11:06:00 PM 0 komentar
