Selama belasan tahun aku hidup seperti sebatangkara, padahal aku masih memilki papa, mama dan juga tiga saudaraku, satu adik dan dua orang kakak. Sebut saja namaku Yassa, usiaku saat ini delapan belas tahun. Sejak aku bisa mengingat tak pernah sekalipun aku mendapat perlakuan yang seharusnya dari mama, saat aku kecil, aku masih belum mengerti mengapa mama selalu membedakan aku dengan anak-anaknya yang lain.
Untunglah aku memiliki papa dan saudara yang masih mau sedikit menyayangi aku, dibanding mama mereka masih bisa aku sebut baik, walau terkadang merekapun sering membuat aku bersedih dan merasa terkucil. Jika sudah mendapat perlakuan yang diskriminatif aku tak bisa berbuat lain selain menangis dan mengunci diri dalam kamar, mengadukan nasibku pada Tuhan dan bermain dengan hayalanku sendiri.
Keadaan keluargaku yang demikian membuat aku menjadi seorang gadis yang sangat tertutup, sejak kecil, aku tak pernah bisa bermain seperti layaknya ank-anak lain. Mama selalu melarangku bermain dengan mereka, katanya aku tak seharusnya terlahir ke dunia, karena aku hanya membuat mereka menjadi hidup susah dan selalu kerepotan, aku tak habis pikir apa yang membuat mama berfikir seperti itu, toh ketiga saudaraku juga membuat mama repot dan susah, ketika adikku menangis aku tahu bahwa mama pasti disusahkan.
Pernah suatu kali aku terpaksa menerima berkali-kali pukulan dari mama lantaran aku menabrak meja dan menjatuhkan beberapa gelas hingga pecah berkeping-keping dan mama menyangka aku sengaja berbuat seperti itu, karena aku dikira sangat menyukai suara-suara dari gelas yang pecah, padahal demi Tuhan aku tidak seperti itu. Aku memang menyukai berbagai macam suara, tapi suara gelas pecah.....?
Sahabatku memang lebih banyak suara-suara, suara apa saja yang bisa kudengar dan kunikmati. Selain suara, aku juga punya sahabat sejati, kegelapan dan hitam. Sejak aku dilahirkan aku tak pernah tahu seperti apa isi dunia itu, yang kata adikku sangat luas, penuh dengan berbagai macam hal, dari yang indah sampai yang menakutkan. Hal indah aku memang belum tahu, tapi hal menakutkan, hampir setiap hari aku mengalaminya.
Setelah aku dewasa, aku baru menyadari bahwa aku buta sejak dilahirkan. Dan itulah yang membuat mama membenciku, menyesal memiliki anak buta seperti aku. Padahal siapa sih yang menginginkan kebutaan, bukankah sebaliknya aku yang harus bertanya pada mamaku mengapa aku dilahirkan dalam keadaan buta, hingga aku tak pernah tahu bentuk manusia seperti apa, rumah seperti apa, dan banyak lagi yang aku tak tahu, adilkah hal itu terhadapku.
Tapi semua itu tak membuatku membenci mama. Aku tahu mama pasti bertaruh nyawa saat melahirkanku. Tapi kenapa mama malah menyalahkanku atas apa yang aku derita. Bahkan tega menyiksaku dengan prilakunya yang diskriminatif, sampai saat ini aku tak pernah tahu bagaimana rasanya bersekolah, bermain bersama teman, sampai-sampai menonton televisi saja aku harus dipandu oleh adik dan kakakku.
Kala aku berumur sepuluh tahun, aku hanya bisa mendengar kakak-kakakku berpamitan dan dengan riang pergi kesekolah, sementara aku hanya bisa berdiri di depan jendela sambil memandang kegelapan yang penuh tanya ada apa disana, sementara mama terus saja menyalahkanku atas apa yang ada pada diriku. Dan papa cuma bisa menasehati mama agar bersabar, papa sepertinya juga menyesal memiliki anak buta seperti aku, cuma papa tak terlalu memperlihatkan penyesalan itu.
Terakhir saat aku sakit dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit, sekali lagi mama menyalahkan aku yang sembrono hingga aku terjatuh dari tangga. Dalam hati mungkin mama senang melihatku celaka dan tak berdaya seperti ini, sekali lagi hanya air mata yang bisa aku keluarkan dari mataku yang buta. Mama memang tak pernah bisa menyayangiku, tapi aku ingin sekali mama bersikap baik padaku sekali saja.
Rasa frustasi membuatku semakin ingin meninggalkan dunia yang gelap ini. Mungkin dunia ini memang bukan untuk aku. Mungkin terjatuh dari tangga dan terbaring di rumah sakit ini adalah sebuah jalan menuju bahagiaku. Mungkin dengan aku terbujur kaku dan terbaring sendiri di tempat sepi membuat mama mau memelukku. Jika memang benar, Tuhan ambil aku sekarang juga agar mama mau memelukku sekali saja dan meneteskan air matanya yang hangat di jasadku yang dingin. (rn-someone)..................
November 10, 2008
Mama, peluk aku sekali saja... - (Inspire Article)
Diposting oleh Rob3rT di 9:42:00 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment